RELUNG WAKTU


RELUNG WAKTU

Rasanya baru kemarin Mengasuh, Menuntun, Mendidik, Hingga Melepas dengan Doa.

Ada masa ketika kita merasa waktu berjalan begitu lambat.

Saat anak masih kecil, hari-hari terasa panjang. Mengasuhnya, mendampinginya belajar, mengantarnya sekolah, mengajarinya mengenal kehidupan—semuanya terasa seperti perjalanan yang masih sangat jauh.

Namun ternyata, waktu memiliki caranya sendiri untuk mengajari kita.

Tanpa terasa, anak-anak yang dulu kita gandeng tangannya kini telah tumbuh menjadi pribadi yang mulai menentukan langkahnya sendiri.

Kita berusaha untuk memberikan yg terbaik untuk anak kita,  pendidikannya, memilih sekolah yang diharapkan mampu menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan karakter.

Mengajari mereka sholat, mengenalkan Al-Qur'an dan belajar ngaji Abatatsa, sedikit demi sedikit menanamkan kecintaan kepada Kalamullah. Karena bagi kita, pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai jenjang akademiknya, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu membentuk akhlak dan kehidupannya.

Tak berhenti sampai disitu, mengingat pemahaman agama kita terbatas, maka Pesantren adalah salah satu pilihan untuk menempa jiwa kemandirian mereka, mengenal Islam lebih dalam.

Di sana, anak belajar hidup lebih mandiri. Belajar disiplin, belajar bertanggung jawab, belajar menghargai waktu, belajar bersama orang lain, dan tentu saja belajar lebih dekat dengan Rabbnya.

Waktu terus berjalan.

Pesantren pun menjadi bagian dari kenangan. Langkah berikutnya ke jenjang yang lebih menantang masuk perkuliahan. 

Dunia semakin luas, tantangan semakin beragam, dan tanggung jawab semakin besar.

Sampai akhirnya tiba pada sebuah hari yang dahulu terasa begitu jauh:

Wisuda.

Melihat toga dikenakan, nama dipanggil, dan akhirnya menerima gelar dengan predikat Cumlaude, hati ini berlimpah rasa syukur.

Bukan semata karena sebuah predikat.

Tetapi karena di balik satu kata Cumlaude, ada perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada doa yang dipanjatkan. Ada lelah yang disembunyikan. 

Ada air mata yang mungkin pernah jatuh, bahkan ada rasa khawatir saat berjauhan dengan anak yang pada akhirnya kepasrahan kepada Allah azza wa jalla menjadi harapan satu-satunya sebagai obat penenang hati.

Juga menjadi bagian dari proses ini adalah perjuangan anak, dukungan keluarga, guru, ustadz, kyai, dan banyak orang yang ikut mengambil bagian dalam perjalanan itu.

Dan tiba-tiba kita tersadar...

Ternyata waktu berlalu begitu cepat.

Perjalanan yang panjang itu, ketika dijalani, terasa begitu banyak tahapnya. Tetapi ketika menoleh ke belakang, semuanya seperti baru saja terjadi.

Mungkin di situlah makna Relung Waktu.

Ada ruang-ruang dalam perjalanan hidup yang tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi menyimpan begitu banyak hikmah.

Di setiap fase ada pelajaran.
Di setiap kesulitan ada pembentukan.
Di setiap keberhasilan ada amanah.
Dan di setiap perjalanan, selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Semoga apa yang telah dilalui bukan sekadar menjadi kenangan indah, tetapi menjadi hikmah dan manfaat.

Semoga ilmu yang telah diperoleh tidak berhenti pada gelar.

Karena yang paling penting bukan hanya seberapa tinggi pendidikan yang telah ditempuh, tetapi seberapa besar ilmu itu memberi manfaat.

Tetaplah memiliki semangat belajar dan jiwa pembelajar.

Sebab wisuda bukanlah akhir dari perjalanan belajar.

Wisuda hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberi manfaat.

Semoga ilmu yang didapatkan menjadi cahaya bagi diri sendiri, menjadi kebaikan bagi keluarga, dan menjadi manfaat bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, perjalanan pendidikan bukan hanya tentang mencapai sebuah gelar.

Tetapi tentang bagaimana ilmu, iman, akhlak, dan pengalaman hidup dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebermanfaatan.

Dari satu relung waktu ke relung waktu berikutnya, semoga selalu ada hikmah yang bisa dipetik, ilmu yang bisa diamalkan, dan kebaikan yang bisa dibagikan.

Dan ketika kelak kita kembali menoleh ke belakang, semoga kita bisa berkata:

Alhamdulillah... perjalanan yang terasa begitu singkat itu ternyata penuh makna.”

Perjalanan Jogja - Tangerang
Rosalia Indah

Sabtu, 19 September 2026

Posting Komentar

0 Komentar