3 Malam Seperti Kiamat

        Menikmati Kopi Bikinan Istri

Seperti biasa pagi ini Allah membangunkan ku sekitar pukul 03.14 Wib, rasanya baru sekejap malam tadi tertidur dengan sedikit kegundahan hati.

Waktu yg tepat untuk memohon ampun dan berharap kucuran Rahmat & kasih sayang-Nya. Rasa-rasanya Kasih sayang yang Allah Ta'ala limpahkan atas nikmat hidayah Iman Islam ini jadi nikmat Terbesar dibanding nikmat-nikmat yang lain.

Saat merasakan nikmatnya berkholwat, ujian itu datang justru dari dalam diri sendiri, dari bersitan hati yang tak bisa dibohongi, tak terlihat tapi tersirat, tak terdengar tapi terasa getarannya.

Tiga malam yang sunyi, sejak belahan jiwaku terdiam tak bersuara, menjerit dalam hatinya, mencoba untuk berdemo dengan caranya memprotes perbedaan pendapat diantara kami tentang sesuatu hal yang sangat melukai hatinya, trauma, ketakutan dan kepasrahan.

Adzan Subuh terdengar bersahutan di beberapa Masjid sekitar, terdengar pintu kamar terbuka, belahan jiwa itu berlalu tanpa kata, sunyi dan dingin. Istighfarku masih kulanjutkan sampai Adzan tak terdengar lagi.

Masjid adalah tujuan terindah di Subuh yang masih murung ini. Sengaja memacu motor butut kesayangan keluarga ini ke Masjid yg agak jauh, yang jama'ahnya tidak mengenalku, satu saja tujuannya, berlama-lama di masjid hingga Syurug menumpahkan semua gundah gulana ini.

Entah sudah berapa tetes membasahi jubah itu, berharap Allah turunkan kelembutan hatinya, mema'afkan ucapan ini. Pasrah.

05.50 jam dinding memberikan kabarnya. Diam tak ada suara, nyetrika sendiri baju kerja, sementara dapur mulai ada aktifitas tanpa suara yang biasa terdengar omelannya untuk si bontot yg msh lemot, "Cepatan mandi, nanti kesiangan..."

"Habis itu sarapan terus siap-siap berangkat sekolah" .....bla bla bla ......

Itulah kerenyahan tiap pagi saat suasana normal dan bahagia, tapi ....pagi ini aneh ... Bahkan sudah 3 pagi suasana tak nyaman ini.

Ada harapan meski terdiam, kopi pagi buatannya terhidang panas di sampingku yang masih nyetrika, belum kusentuh gelasnya tapi sudah kurasakan aroma kehangatan cintanya, Alhamdulillah.

Tiba-tiba belahan hatiku menghampiri dan berkata, "Nitip nanti matiin mesin cuci" ....kaku & terluka.

Kupeluk dia sambil kubisikan ditelinganya : "Ma'afkan aku, 3 malam ini seperti kiamat" .....

Tiba-tiba dia tersenyum sambil berkata : "Jadi pengen ketawa"

Hahahaha .....akhirnya kami tertawa berdua.

Kiamat itu ditunda. Alhamdulillah 
Kucium keningnya sambil kupukul manja (maaf) bagian belakang badannya.

Terima kasih sayang.

Thanks Allah atas hikmah ini.


Posting Komentar

0 Komentar